Multitasking bukan solusi, melainkan penyebab burnout. Riset ungkap hilangnya 40% waktu produktif akibat kebiasaan ini, dan cara mengatasinya.

Apabila dua riset sebelumnya membahas performa kerja dan tingkat kelelahan, riset Kep Kee Loh dan Ryota Kanai (2014) yang dipublikasikan dalam PLOS ONE membahas aspek yang lebih mendalam, yaitu struktur otak itu sendiri. Penelitian ini dilakukan dengan memindai otak 75 orang dewasa, kemudian membandingkan hasilnya dengan tingkat kebiasaan multitasking media masing-masing partisipan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu dengan skor multitasking media yang lebih tinggi memiliki kepadatan grey matter (materi abu-abu) yang lebih rendah pada anterior cingulate cortex (ACC), yaitu bagian otak yang berperan dalam kontrol kognitif dan regulasi emosi. Temuan ini dapat menjelaskan kaitan antara kebiasaan multitasking dengan sensitivitas emosi dan ketidakstabilan suasana hati yang disinggung pada bagian awal tulisan ini. ACC berperan membantu individu menahan reaksi yang berlebihan, sehingga penurunan kepadatannya berpotensi melemahkan kontrol emosi.
Perlu digarisbawahi bahwa riset ini bersifat korelasional. Loh dan Kanai sendiri menyatakan belum dapat memastikan arah hubungan sebab-akibatnya, apakah kebiasaan multitasking yang mengikis kepadatan grey matter pada ACC, atau individu dengan kepadatan grey matter yang lebih rendah pada area tersebut yang cenderung lebih tertarik pada aktivitas multitasking sejak awal. Terlepas dari arah hubungan tersebut, temuan ini tetap menjadi alasan yang kuat untuk lebih memperhatikan kebiasaan membagi perhatian dalam aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan uraian keempat riset di atas, terdapat beberapa langkah yang dapat diterapkan untuk tetap menyelesaikan banyak tugas tanpa mengorbankan fokus dan kesehatan mental.
Mengelompokkan tugas yang sejenis dalam satu waktu pengerjaan. Riset APA menunjukkan bahwa biaya terbesar dari multitasking muncul pada saat terjadi perpindahan konteks, bukan pada saat berpindah antartugas yang serupa. Seluruh korespondensi surel sebaiknya dikerjakan dalam satu waktu, demikian pula dengan seluruh kegiatan riset, alih-alih menyelipkannya di antara tugas lain yang konteksnya sama sekali berbeda.
Memberi jeda setelah mengalami interupsi, alih-alih langsung mempercepat ritme kerja. Riset Gloria Mark menunjukkan bahwa seseorang cenderung mempercepat ritme kerja setelah mengalami interupsi, dan kecenderungan inilah yang memicu penumpukan stres. Setelah membalas pesan atau menjawab pertanyaan rekan kerja, disarankan untuk menarik napas sejenak sebelum kembali pada pekerjaan utama.
Menonaktifkan notifikasi pada saat memasuki fase kerja yang membutuhkan fokus penuh. Interupsi yang berasal dari diri sendiri, seperti memeriksa ponsel tanpa alasan yang jelas, memberikan dampak yang setara dengan interupsi dari pihak luar. Pengaktifan mode senyap atau mode pesawat selama satu hingga dua jam dapat membantu menjaga fokus.
Tidak menyamakan "pekerjaan yang selesai dengan cepat" dengan "kondisi yang baik-baik saja". Riset Ophir menunjukkan bahwa individu dengan frekuensi multitasking paling tinggi justru memiliki penilaian yang paling tidak akurat terhadap kemampuan dirinya sendiri. Evaluasi berkala perlu dilakukan untuk memastikan kondisi tersebut benar-benar baik, dan bukan sekadar kebiasaan menahan kelelahan.
Menyediakan waktu tanpa paparan media sama sekali. Mengingat dampak kebiasaan multitasking media dapat memengaruhi struktur otak, waktu istirahat yang bebas dari layar dan notifikasi, meskipun hanya berdurasi 20 hingga 30 menit per hari, perlu disediakan. Waktu tersebut bukan ditujukan untuk meningkatkan produktivitas, melainkan untuk memberi ruang pemulihan bagi otak.
Kesadaran atas pola ini penting dimiliki oleh siapa pun yang kerap mengerjakan satu tugas sambil membalas pesan pada percakapan lain, sebab kebiasaan tersebut bukan tanda produktivitas, melainkan tanda kelelahan yang tertunda. Menghilangkan seluruh gangguan secara total memang bukan hal yang realistis di tengah dunia yang serba terhubung saat ini. Namun, kesadaran mengenai kapan harus benar-benar fokus, dan kapan gangguan dapat ditoleransi, menjadi langkah awal yang dapat membantu menjaga produktivitas tanpa berujung pada burnout.
American Psychological Association. Multitasking: Switching Costs. apa.org/topics/research/multitasking
Ophir, E., Nass, C., & Wagner, A. D. (2009). Cognitive Control in Media Multitaskers. PNAS. pnas.org/doi/10.1073/pnas.0903620106
Loh, K. K., & Kanai, R. (2014). Higher Media Multi-Tasking Activity Is Associated with Smaller Gray-Matter Density in the Anterior Cingulate Cortex. PLOS ONE. journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0106698
Mark, G., Gudith, D., & Klocke, U. (2008). The Cost of Interrupted Work: More Speed and Stress. CHI '08. ics.uci.edu/~gmark/chi08-mark.pdf
Anda telah menyelesaikan artikel ini.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!