Multitasking bukan solusi, melainkan penyebab burnout. Riset ungkap hilangnya 40% waktu produktif akibat kebiasaan ini, dan cara mengatasinya.


Sebagian besar dari kita terbiasa mengerjakan tugas sambil memutar musik, membalas pesan yang masuk, di tengah tugas-tugas baru yang terus bermunculan setiap hari. Kondisi ini memaksa kita menyelesaikan seluruh pekerjaan dengan cepat, bahkan tidak jarang mengerjakannya secara bersamaan, atau yang biasa disebut multitasking. Pada penghujung hari, tubuh dan pikiran terasa lelah, emosi menjadi lebih sensitif, dan suasana hati cenderung tidak stabil. Hari-hari pun terasa berat, jauh dari kata menyenangkan, padahal beban pekerjaan yang dijalani sebenarnya belum tergolong berat.
Pertanyaannya, bagaimana cara menghindari kondisi tersebut? Apakah terdapat kebiasaan yang tanpa disadari justru menjadi penyebab kelelahan mental, bahkan burnout, dalam menyelesaikan pekerjaan?
Salah satu penyebab utamanya adalah multitasking itu sendiri. Berdasarkan riset yang dirangkum oleh American Psychological Association (APA) dalam laporan berjudul Multitasking: Switching Costs, apa yang selama ini disebut sebagai multitasking sebenarnya adalah proses berpindah antartugas secara cepat. Otak manusia tidak benar-benar mengerjakan dua hal sekaligus, melainkan berpindah secara bergantian melalui dua proses, yaitu pengalihan fokus (menghentikan pekerjaan A untuk beralih ke pekerjaan B) dan penyesuaian konteks (keluar dari konteks pekerjaan A, kemudian memahami ulang konteks pekerjaan B).
Sebagai gambaran sederhana, ketika seseorang sedang mengerjakan suatu tugas, kemudian muncul notifikasi atau pesan yang masuk secara beruntun, orang tersebut cenderung berhenti sejenak untuk membalas pesan, sebelum kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Contoh lain, ketika sedang fokus bekerja, sebuah lagu terputar dan membangkitkan ingatan tertentu, atau muncul lagu baru yang dinilai layak ditambahkan ke dalam daftar putar. Peristiwa-peristiwa kecil tersebut tetap tergolong sebagai perpindahan tugas, dan setiap perpindahan memiliki konsekuensinya sendiri.
Sebagai gambaran, otak dapat diibaratkan sebagai sebuah sakelar listrik, dan setiap orang adalah pihak yang berulang kali menghidupkan dan mematikan sakelar tersebut sepanjang hari. Dalam mekanisme kelistrikan dasar, setiap kali sebuah sakelar diputus dan disambungkan secara mendadak, sistem tidak memperoleh kesempatan untuk menstabilkan aliran daya. Transisi paksa yang berulang ini menimbulkan gesekan dan hambatan pada titik sambungan. Akumulasi hambatan tersebut menghasilkan panas berlebih, membebani kapasitas kabel di luar batas wajarnya, dan pada akhirnya memperpendek usia pakai komponen tersebut.
Kondisi serupa terjadi pada kerja kognitif manusia. Setiap kali seseorang berpindah dari satu tugas ke tugas lainnya, otak dipaksa mengalihkan fokus sekaligus menyesuaikan konteks secara cepat. Akibatnya, fokus tidak pernah benar-benar tercapai secara utuh, karena terus-menerus diputus dan disambungkan kembali dengan informasi yang berbeda-beda.
Jeda yang digunakan otak untuk "berhenti dan memulai kembali" tersebut memang tidak begitu terasa apabila dilihat satu per satu. Namun secara akumulatif, beban tersebut menumpuk seperti efek bola salju. David Meyer, salah satu peneliti dalam laporan APA tersebut, menyatakan bahwa jeda mental akibat perpindahan tugas dapat merampas hingga 40 persen waktu produktif seseorang. Dengan kata lain, pekerjaan terasa tidak kunjung selesai, meskipun seseorang merasa telah cukup berusaha atau "sibuk" untuk menyelesaikannya. Kondisi inilah yang dapat disebut sebagai ironi di balik kesibukan yang sebenarnya tidak produktif.
Lanjut ke Bagian 2 →
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!