Multitasking bukan solusi, melainkan penyebab burnout. Riset ungkap hilangnya 40% waktu produktif akibat kebiasaan ini, dan cara mengatasinya.

Sebagian pembaca mungkin kurang sependapat dengan penjelasan di atas, dengan anggapan bahwa "saya tetap dapat melakukan semua itu tanpa hambatan, bahkan tetap dapat menyelesaikan tugas dengan cepat." Anggapan tersebut cukup beralasan, dan paradoks ini justru dikonfirmasi oleh riset Gloria Mark beserta tim dari University of California, Irvine, dalam jurnal The Cost of Interrupted Work: More Speed and Stress. Riset tersebut menemukan hasil yang berlawanan dengan dugaan pada umumnya. Seseorang yang terus-menerus diinterupsi atau melakukan multitasking justru cenderung menyelesaikan tugasnya dalam waktu yang lebih singkat, bukan lebih lama. Timbul pertanyaan, di manakah letak permasalahannya?
Dalam eksperimen tersebut, interupsi terjadi dalam dua kondisi. Pertama, interupsi yang berasal dari orang lain, misalnya ketika seseorang bekerja di kedai kopi bersama rekan atau atasan, kemudian diajukan pertanyaan yang menyebabkan pekerjaan terhenti sejenak. Kedua, interupsi yang berasal dari diri sendiri, misalnya ketika seseorang bekerja seorang diri, namun tetap menyempatkan diri memeriksa notifikasi, membuka aplikasi lain, atau berpindah tab tanpa ada dorongan dari pihak luar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua jenis interupsi tersebut sama-sama membuat pekerjaan diselesaikan lebih cepat, dengan kualitas hasil yang tidak jauh berbeda dari kondisi tanpa interupsi. Akan tetapi, kecepatan tersebut memiliki konsekuensi. Partisipan yang mengalami interupsi menunjukkan tingkat stres, frustrasi, tekanan waktu, dan beban usaha mental yang jauh lebih tinggi dibandingkan partisipan yang bekerja tanpa gangguan. Dengan demikian, seseorang memang dapat menyelesaikan tugas secepat biasanya, tetapi otak dan tubuh tetap menanggung konsekuensinya melalui tekanan yang terakumulasi secara perlahan, sering kali tanpa disadari pada saat itu juga.
Oleh karena itu, apabila seseorang merasa "baik-baik saja karena tugas tetap terselesaikan", temuan riset ini justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Pekerjaan memang selesai, namun secara bersamaan, tekanan psikologis sedang terakumulasi untuk dirasakan di kemudian hari.
Salah satu temuan yang paling signifikan berasal dari riset Eyal Ophir, Clifford Nass, dan Anthony Wagner dari Stanford University, yang dipublikasikan dalam jurnal PNAS berjudul Cognitive Control in Media Multitaskers. Penelitian ini membandingkan dua kelompok, yaitu kelompok dengan frekuensi multitasking media yang tinggi (heavy media multitaskers) dan kelompok dengan frekuensi rendah (light media multitaskers). Multitasking media yang dimaksud adalah konsumsi beberapa sumber informasi secara bersamaan, misalnya menonton tayangan sambil menggulir layar ponsel, atau mengerjakan tugas sambil membuka banyak tab peramban.
Secara logika, individu yang terbiasa membagi perhatian seharusnya lebih terlatih dalam mengelola banyak hal sekaligus. Namun, hasil penelitian menunjukkan hal yang sebaliknya. Kelompok dengan frekuensi multitasking tinggi justru lebih mudah terganggu oleh hal-hal yang tidak relevan. Gangguan tersebut dapat berasal dari lingkungan sekitar, maupun muncul dari ingatan yang tiba-tiba terlintas di tengah pekerjaan. Kelompok ini juga menunjukkan respons yang lebih lambat dan tingkat kesalahan yang lebih tinggi ketika harus berpindah tugas, dibandingkan kelompok dengan frekuensi multitasking rendah.
Sebagai analogi, kemampuan menyaring gangguan pada otak dapat digambarkan seperti saringan kopi. Apabila saringan tersebut terus-menerus dipaksa menyaring dalam jumlah besar, saringan itu bukannya menjadi lebih lebar, melainkan justru mudah berlubang dan meloloskan ampas yang seharusnya tersaring. Individu yang terbiasa multitasking kehilangan kemampuan menyaring gangguan, padahal kemampuan tersebut yang paling dibutuhkan.
Temuan lain yang perlu dicermati adalah individu dengan frekuensi multitasking paling tinggi justru cenderung menilai dirinya paling mampu melakukannya, sementara hasil pengujian menunjukkan performa mereka berada pada level paling rendah. Kondisi ini dapat disebut sebagai ilusi kompetensi, yaitu keyakinan atas kemampuan diri yang tidak sejalan dengan kemampuan sesungguhnya, akibat kebiasaan yang justru mengikis kapasitas fokus secara perlahan.
Lanjut ke Bagian 3 →
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!