Erotisme dalam rempah adalah obsesi yang begitu tinggi terhadap sensasi gairah yang membuat pikiran menjadi tidak rasional.

Di sini kita tidak akan melihat bagaimana awal terjadinya protugis masuk hingga VOC datang menguasai Nusantara, tetapi melihat bagaimana sebuah motif "religius" menjadi tameng dari segala kekejaman yang telah dilakukan selama masa penjajahan oleh orang Eropa. Selain dalam kebutuhan ekonomi yang mendasar ada sebuah justifikasi moral yang menjadikan imperialis ini sebagai bentuk pembenaran bagi Eropa, tentu saja ini menyangkut motivasi mereka yaitu 3G (Gold, Glory, Gospel) yang selalu diagungkan oleh bangsa Eropa. Mereka tidak hanya cukup untuk mendapat keuntungan yang begitu besar di dalam pasar, tetapi juga memonopoli sumber daya secara langsung dengan menggunakan tangan besi. Akibat hasrat yang begitu besar terhadap rempah, menciptakan pendorong untuk melakukan kolonialisasi.
Portugis merupakan yang pertama dalam melakukan penjajahan terhadap Maluku, dengan memanfaatkan keinginan raja Ternate pada saat itu yakni Sultan Bem Acorala yang berada dalam tulisan Tome Pires yang mencoba untuk bekerja sama dalam bidang ekonomi. Portugis tidak berhenti sampai situ saja, mereka juga mulai membangun benteng sekaligus memperkuat pertahanan untuk menjaga jalur rempah Portugis di Maluku. Portugis juga menanam politik di dalam baris kesultanan Ternate, dengan motif awal mereka adalah untuk memonopoli rempah. Hingga pada akhirnya kekejaman Portugis terlihat pada saat mereka mulai ikut campur dalam urusan suksesi serta pemerintahan internal Ternate, yang paling terlihat adalah pembunuhan Sultan Khairun akibat berhasil membawa kejayaan untuk Ternate.
Tentu saja sama seperti halnya Spanyol yang menjalin kerja sama dengan Tidore, dengan berbeda kepentingan Spanyol yang ingin bekerja sama dalam perdagangan sekaligus mencoba mengintervensi kesultanan serta sultan Tidore yang mencoba mencari kekuatan asing dalam persaingan nya dengan kerajaan Ternate. Puncak ketegangan konflik ini adalah ketika Portugis mencoba mengambil alih Tidore dari tangan Spanyol, yang pada akhirnya persaingan kedua kekuatan Barat ini berdiri di atas konflik internal Ternate dan Tidore. Sampai pada akhirnya perjanjian tordesillas 1494 memisahkan batas wilayah jajahan Portugis dan Spanyol, yang mirisnya dalam perjanjian ini tidak dilibatkan Ternate dan Tidore yang merupakan wilayah berpenghuni dengan kekuasaan sendiri tidak dilibatkan dalam perjanjian tersebut.
Hal yang terjadi dalam persaingan Portugis dengan Spanyol di kepulauan Maluku yakni pada Ternate dan Tidore, merupakan hasil dari obsesi yang begitu besar untuk menguasai rempah secara penuh. Mereka tidak memandang bagaimana kehidupan yang berada didekat mereka berada, bahkan mereka tidak akan segan utnuk membunuh penduduk lokal bila tidak mematuhi perintah mereka. Kalau saja rempah hanya menjadi kebutuhan ekonomi semata, maka imperialis yang dilakukan bangsa Eropa tidak akan berjalan sebrutal itu. Begitupun dengan Inggris dengan East India Company yang selalu tidak berhasil untuk menguasai secara penuh, mereka berjanji kepada sultan Babu yang memimpin Ternate pada masa itu dengan memenuhi laut dengan kapal-kapal. Namun sayangnya dalam penjelasan Jack Turner bahwa janji itu tidak dipenuhi sepenuhnya, mengakibatkan lemahnya intervensi Inggris di Maluku.
ADVERTISEMENT
Berbeda dengan Belanda yang memiliki VOC membuat Inggris mulai tergeserkan dari Maluku, bahkan Jack Turner menulis tentang terjadinya konflik terhadap Belanda yang mulai tidak menyukai karyawan Inggris yang berada di Ambon. Tragedi itu dinamakan tragedi Amboyna yang dimana pada 16 Februari 1623, karyawan Inggris yang berada di Ambon dibunuh massal oleh Belanda. Dengan Belanda yang mulai mendominasi Hindia Timur dengan VOC, membuat rivalitas antara bangsa Eropa berakhir.
Lanjut ke Bagian 4 →

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since 1966, when designe

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since 1966, when designe